Jayapura, 20 Oktober 2011 Filter Air Tenaga Surya ala Papua
 Lingkungan |
Oleh: Hadi Susanto Askot Infrastruktur Korkot Jayapura
Tamharuddin National Trainer KMW/OC 9 Papua PNPM Mandiri Perkotaan .
|
KSM Jum, Air Su Jernih
Berpuluh tahun, warga Kampung Koya Tengah, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura mengkonsumsi air berkadar besi sangat tinggi. Bahkan tak jarang, air tersebut terkontaminasi kotoran tanah, limbah dan bibit penyakit, di tengah keruhnya air.
Bagi warga, mendapatkan air bersih bukan perkara mudah. Selama ini masyarakat harus menempuh perjalanan jauh, hanya untuk mendapatkan segalon air minum, dan harus membelinya seharga Rp7000 per galon.
Tapi kini, itu semua menjadi cerita lama. Sejak dibangunnya filterisasi, masyarakat Kampung Koya Tengah tidak lagi kesulitan air bersih. Mereka cukup memutar kran, air bersih sudah keluar dengan lancar.
Dengan penyaringan (filterisasi), air yang mengandung zat besi dan kotoran lain dapat tersaring dan menjadi layak konsumsi. Masyarakat sangat bersyukur dengan berjalannya program PNPM Mandiri Perkotaan yang turut menyelesaikan persoalan akses air bersih di Kampung Koya Tengah.
Penyaringan air bersih ini merupakan usulan murni masyarakat Kampung Koya Tengah, sebab sudah sejak lama mereka telah mendambakannya. Tanpa menunggu lama, masyarakat pun bergegas membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Jum, yang artinya Air Su Jernih (air sudah jernih).
KSM tersebut mengusulkan permasalahan kepada Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) Manep Onem agar dapat difasilitasi penjernihan air tanah agar bisa dikonsumsi warga masyarakat. Setelah diperiksa, ternyata usulan tersebut termasuk salah satu kegiatan yang telah diprogramkan dalam PJM Pronangkis.
Bermitra dengan Dinas Kesehatan Kota Jayapura
Usulan tersebut kemudian disetujui oleh LKM dan menduduki rangking pertama berdasarkan rapat usulan prioritas. LKM kemudian mengalokasikan dana BLM sebesar Rp75 juta untuk realisasinya.
Persoalan kemudian timbul ketika masyarakat akan melaksanakan kegiatan. Mereka kesulitan mendapatkan alat penyaring (filter) air. Alat tersebut memang masih jarang ditemui di Papua. Kalaupun ada, harganya sangat mahal.
Jalan keluar ditemukan setelah Fasilitator, bersama LKM, melakukan diskusi dengan Dinas Kesehatan Kota Jayapura. Alhasil, pihak Dinas Kesehatan Kota Jayapura bersedia membantu memfasilitasi pertemuan dengan produsen alat tersebut dari Jakarta, agar diperoleh perangkat filter air yang lebih murah.
Satu persoalan teratasi. Jalan mulai terbentang, dan KSM segera bergerak mencari bahan-bahan lain yang dibutuhkan.
Alokasi dana yang bersumber dari bantuan langsung masyarakat (BLM) PNPM Mandiri Perkotaan digunakan KSM untuk membeli filter sebanyak dua unit, seharga Rp40 juta. Serta pembuatan tower (menara) besi setinggi 5 meter dengan harga Rp11 juta, profil tank seharga Rp3 juta, satu set solar cell kapasitas 200 watt seharga Rp12 juta, dan sisanya digunakan untuk membangun bak air ukuran 3 meter x 3 meter, sumur, jaringan pipa dan pompa listrik sebesar Rp9 juta.
Musyawarah persiapan pelaksanaan konstruksi |
 Pembuatan filter air saat masih 0%
|
Awalnya pembangunan Filterisasi ini berjalan lambat, karena partisipasi masyarakat amat kurang. Budaya “malas mencari tahu, tetapi mau menerima hasilnya saja” masih kuat mempengaruhi cara berpikir mereka. Selain itu, budaya tergantung pada pihak luar akibat “salah urus” program-program sebelumnya—yang jarang melibatkan masyarakat—makin membuat mereka enggan terlibat.
Bagi BKM dan fasilitator, tantangan ini sebenarnya adalah “makanan sehari-hari”, yang tidak lantas menyurutkan semangat. Apalagi berbekal tingginya dukungan kepala kampung, proses penyadaran masyarakat tidak butuh waktu lama.
Gempuran sosialisasi yang terus menerus dan penyadaran tak kenal lelah dengan berbagai cara yang disertai pendekatan personal kepada kepala suku, membuat masyarakat perlahan mulai memahami bahwa kegiatan ini adalah untuk masa depan mereka, dan harus dikerjakan bersama-sama secara gotong-royong untuk mewujudkannya.
“Pendampingan rutin ditambah dorongan aparat kampung amat berperan dalam membantu penyelesaian prasarana yang kita bangun,” ujar kepala kampung dengan bangga.
 Bak air mulai terbangun (50%)
|
 Tower dan bak air sudah terbangun (100%) |
Proses pengerjaan sendiri baru selesai setelah hampir satu bulan berjalan, ditunjang oleh swadaya masyarakat berupa konsumsi, tenaga dan material lokal. Setelah dihitung, secara nominal swadaya masyarakat mencapai Rp5 juta. Dilihat dari skala “proyek” ini, LKM menyadari bahwa swadaya masyarakat masih jauh dari harapan. Namun masyarakat telah memperlihatkan itikad untuk berswadaya.
Ke depan, LKM akan mendorong masyarakat untuk meningkatkan keswadayaan dalam setiap pembangunan bagi kampung halamannya sendiri. Setidaknya kegiatan ini mampu membuka paradigma masyarakat bahwa swadaya menjadikan masyarakat tidak bergantung sepenuhnya lagi kepada pihak luar dalam mengubah nasibnya sendiri.
Air Bersih Tenaga Mentari
Kini, instalasi filter air tersebut mampu menghasilkan air bersih yang tidak lagi terkontaminasi zat besi, bebas kotoran-kotoran air tanah ataupun sisa tumbuhan rawa yang membusuk. Dengan debit cukup besar, air bersih ini bisa dinikmati oleh 150 jiwa warga miskin sesuai data PS-2.
Uniknya, alat ini bisa bekerja 24 jam nonstop tanpa listrik PLN. Sebab alat ini menggunakan tenaga matahari (solar cell) yang lebih hemat energi, efisien dan mudah perawatannya.
 Korkot Jayapura berfoto bersama warga penerima manfaat fasilitas air bersih |
Instalasi air bersih bertenaga surya sudah mulai bekerja menyaring air
|
Guna menjaga agar perangkat filter tetap awet, masyarakat membentuk organisasi operasional dan pemeliharaan yang dikoordinir oleh Ketua KSM Jum Lerius Wenggo. Tim pemelihara ini bersepakat berbagi tugas pemeliharaan dengan membuat jadwal piket rutin pembersihan filter dan bak air setiap bulannya.
“Sekarang tong su tra setengah mati dengan air bersih lagi. Dulu tu tong su pake air kotor yang sukena sat besi. Sekarang, Puji Tuhan, tong su tra pake air kotor lagi yang dapat menyebabkan penyakit,” kata Markus Agaki, salah seorang warga Koya Tengah, yang masih kerap terpana merasakan manfaat air bersih hasil penyaringan.
Artinya, kurang lebih adalah, saat ini kita sudah tidak pakai air kotor lagi. Kami puas menikmati hidup dengan air bersih. Warga merasa sangat berterima kasih kepada PNPM Mandiri Perkotaan, yang telah memahami dan melihat masalah yang dihadapi dari tahun ke tahun hingga sekarang.
Ternyata di zaman canggih ini, matahari tak hanya menyinari dunia, tapi juga sanggup mengalirkan air kehidupan. (KMW 9 Papua)
Lampiran:
- Filter Air Tenaga Surya Made in Kampung Koya Tengah (format .pdf, ukuran 351 KB)
Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini, silakan menghubungi contact person: Hadi Susanto (Askot Infrastruktur Korkot Jayapura KMW/OC 9 Papua) HP. 0852 44651 996
Editor: Tamharuddin/Tomy Risqi/Nina K. Wijaya (dibaca 1316) |