Pagaralam, 18 Juni 2012 Debit jadi Debet
 |
Oleh: Zaky Yamani Faskel Teknik - TF.25 OC 2 Sumatera Selatan PNPM Mandiri Perkotaan
|
|
Belumai adalah sebuah desa kecil yang sangat indah dan subur dengan rumpun bambu bertebaran menaungi jalan menuju desa tersebut. Seolah-olah pohon bambu menjadi pagar peneduh bagi desa di kaki Gunung Dempo ini. Tak heran jika desa yang terletak tepat di RT 08/RW 03, Kelurahan Ulu Rurah, Kecamatan Pagaralam Selatan, Provinsi Sumatera Selatan tersebut dikenal sebagai salah satu sentra penghasil bambu.
Pada umumnya, masyarakat Desa Belumai mempunyai penghasilan tetap dari sektor perkebunan, khususnya kopi. Kontur tanah Desa Belumai mempunyai ketinggian berbeda-beda: rendah dan tinggi. Masyarakat memilih menanam kopi di daerah tinggi. Perkebunan kopi tersebut telah dilakukan turun temurun, mulai dari nenek moyang mereka yang telah lama tinggal di desa.
Tahun demi tahun berganti, masyarakat Belumai menjalani kehidupan mereka dengan sabar dan bersemangat menjalankan kegiatan berkebun kopi. Namun, lama kelamaan, usaha berkebun tidak lagi mencukupi biaya hidup masyarakat, mengingat kopi hanya dipanen sekali setahun. Padahal kebutuhan hidup semakin melambung tinggi. Perkembangan penduduk pun semakin meningkat, sehingga tidak mungkin lagi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Belumai.

Sebagian masyarakat Desa Belumai, yang tinggal di daerah berkontur tanah rendah, menjalankan usaha di sektor perikanan. Memang, air yang mengalir hanya dapat melayani daerah tertentu. Lain halnya dengan masyarakat yang berada pada kontur tanah yang tinggi. Jangankan usaha perikanan, untuk kebutuhan air mandi dan cuci saja sangat terbatas.
Melihat kondisi tersebut, pada tahun 1980 tercetuslah ide untuk mencari solusi agar air dapat mengalir ke daerah tinggi, agar kebutuhan air di desa tersebut dapat tercukupi. Membendung air merupakan solusi yang mereka pilih. Dengan bersemangat, mereka melakukan pembangunan bendungan sederhana agar air dapat mengalir pada permukaan tanah yang lebih tinggi. Untuk mengalirkan atau menyeberangkan air tersebut dari lekukan tanah, mereka menggunakan peralatan sederhana dan memanfaatkan potensi sumberdaya alam lokal, yaitu bambu.

Lambat laun kebutuhan akan air tercukupi, dan masyarakat setempat dapat memanfaatkan air tersebut untuk keperluan mandi dan cuci. Bahkan, dapat memanfaatkan air tersebut untuk keperluan ternak ikan atau tambak, sehingga pendapatan masyarakat Belumai mulai membaik.
Namun, setelah kebutuhan akan air tercukupi, rupanya mereka masih mendapatkan permasalahan yang terus-menerus menghantui mereka. Yaitu, masalah perawatan bangunan. Pasalnya, bangunan untuk menyeberangkan air yang terbuat dari bambu ini harus diganti sebulan sekali. Mengatasinya, mereka memutuskan mengganti bambu dengan pipa paralon berdiameter 6 inchi.
Setelah mengganti prasarana tersebut, akhirnya mereka dapat menikmati air tanpa harus mengganti bambu setiap bulannya. Air yang mengalir dapat bertambah debitnya, karena kebocoran pada bambu dapat tertanggulangi.
Pada tahun 2007 program PNPM Mandiri Perkotaan masuk ke Kelurahan Ulu Rurah, banyak kegiatan yang dilakukan masyarakat sesuai dengan aspirasi yang disampaikan kepada BKM dengan memandang prioritas, pemanfaat dan dana yang ada. Sampai akhirnya program ini tetap berjalan hingga sekarang. Tak lupa, aspirasi masyarakat di Desa Belumai pun dapat terwujud.
Adapun aspirasi masyarakat Belumai itu adalah pembangunan jembatan air yang bertujuan meningkatkan debit air yang sudah ada dan mengganti prasarana air yang telah rusak, karena debit air yang selama ini kurang untuk mencukupi kebutuhan dan usaha masyarakat Desa Belumai. Untuk panitia pelaksanaan pembangunan Jembatan Air ini dibentuklah KSM Dahlia. Pengerjaan jembatan tersebut menyerap dana masyarakat sebesar Rp11,4 juta ditambah swadaya Rp3.125.000.

Pada Agustus 2010 pelaksanaan pembangunan jembatan air di Desa Belumai RT.08 dilaksanakan KSM Dahlia dengan melibatkan masyarakat bergotong-royong. Alhasil bangunan tersebut dapat dilaksanakan selama 8 hari dari 15 hari rencana sebelumnya. Ini semua berkat kekompakan yang selama ini terbangun dalam masyarakat, khususnya Desa Belumai. Kaum ibu juga tak mau kalah, bergotong-royong membantu membuatkan makanan dan minuman bagi para pekerja di lapangan.
Setelah pekerjaan selesai, ternyata debit air menjadi lebih besar dua kali lipat dari semula, yaitu dari 0,0176 m2/detik menjadi 0,035 m2/detik. Melihat konstruksi dan bahan bangunan yang dibangun pada jembatan air tersebut, diperkirakan umur bangunan bisa mencapai 5 tahun dan dapat dimanfaatkan oleh 35 KK miskin yang berdomisili di Desa Belumai.
Akhir kata, penulis memandang bahwa judul di atas hanyalah sebagai ungkapan hati dari kami, khususnya Tim Faskel 25 Pagaralam. “Debit jadi Debet” maksudnya adalah dengan bertambahnya debit air yang mengalir, maka pemasukan atau pendapatan masyarakat Belumai akan menjadi lebih baik dari sebelumya. Dan, istilah bersatu kita teguh bercerai kita runtuh dapat diwujudkan dalam masyarakat Desa Belumai dengan kekompakan gotong royong—tanpa memandang tua dan muda, laki-laki dan perempuan, maupun kaya dan miskin—maka suatu usaha akan berhasil dengan baik dan benar. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Success to Ulu Rurah! (Sumsel)
Informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
LKM Ulu Rurah Desa Jambat Balo, Kel.Ulu Rurah
Contact Person: Bpk.Hamza (Koordinator LKM), No.HP. 085273891965
Dokumentasi lainnya:
Editor: Nina K. Wijaya (dibaca 922) |