Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Forum
,
Selamat datang di website KOTAKU.
HomeForumMONEVTA Monev Jateng KURANGKRJAAN
TA Monev Jateng KURANGKRJAAN 
pejuangwarmis pantura, 23 April 2012, jam 13:24:52
Monev yang dilakukan TA jateng tidak ada perbaikannya buat masyarakat ,dan cuma "nyuruh-nyuruh masyarakat". Banyak BKM menilai monev KURANG KERJAAN. Sedangkan tidak ada hal-hal yang teramat prinsipil dan substansial yang dilakukannya untuk perubahan masyarakat.
Apa sekedar pengen cari-cari perkara supaya dapat "ubo rampe" maupun amplop dari para korkot ??
Akibat yang terjadi di masyarakat adalah pada kinerja BKM/LKM yang sedang menjalan kegiatan sosialisasi program,penyusunan PJM, pemberkasan BLM jadi terganggu dengan adanya monev yg KURANG KERJAAN ini.geerrrh!...

[Kirim tanggapan | Kirim pesan baru]



Tanggapan 1
 
Re: TA Monev Jateng KURANGKRJAAN
sajadah suci, 23 April 2012, jam 14:11:46
contohnya apa ya..............?ting..ting!
Tanggapan 2
 
Re: TA Monev Jateng KURANGKRJAAN
dina octavia, 25 April 2012, jam 15:15:15
maaf sebelumnya ane cuma pengen ikut nimbrung........
ketika pejuang warmis pantura menyebutkan hal tersebut harus ada bukti nyata dunk....
tidak seperti ini main buka statmen....
kita hidup di negara pancasila jadi harus melihat dari mana kita berpijkak dan kita harus denger kata hati dan tidak main Fitnah.....mungkin anda sendiri yang trima amplop.....kalo di daerah jabar ..uji petik dan turun lapang sudah mekanisme dari pekerjaan mereka...kita cuma pemperhati yang nantinya ...jika itu tidak bener harus di perbaiki



Trimakasihha..ha..ha...ha..ha..ha...ha..ha..ha...ting..ting!
Tanggapan 3
 
Re: TA Monev Jateng KURANGKRJAAN
ardisyah alam, 25 April 2012, jam 16:45:53
Kami dari PPM KMW V JATENG mengucapkan terima kasih atas informasi sdr "pejuangwarmis pantura", hal ini sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan. Tentunya bilamana informasi yg disampaikan benar dan akurat akan membawa kebaikan bagi pelaksana/pendamping program (konsultan) dan masyarakat sendiri.
Perlu sdr ketahui bahwasannya uji petik (yang sebenarnya merupakan cara melakukan monev) yg dilakukan oleh bbrp TA KMW adalah salah satu kewajiban dari KMW dalam setiap siklusnya. Hal ini dilakukan untuk lebih mendekatkan jarak antara laporan yg diterima KMW dg realitas di lapang, dengan secara langsung bertemu dg pelaku/pelaksana program (BKM/KSM/Aparat Kelurahan dll), dokumen kegiatan dan lokasi kegiatan sampai ke penerima manfaat. Jadi konsekwensi logis bilamana harus meluangkan waktu untuk tim Uji Petik (biasanya waktu pertemuan disinergikan/disesuaikan dg waktu luang ybs).
Bilamana ada ketidak sesuaian data/dokumen dengan realitas dilapang, sudah seharusnya tim Uji Petik memberikan masukan/teguran untuk segera dibenahi, bukan untuk mencari-cari kesalahan.
Tim Uji Petik dalam melaksanakan tugas selalu dibekali Surat Tugas dari KMW 5 JAWA TENGAH, perlengkapan yang cukup, termasuk alat transportasi.
Terkait dengan statement saudara :
“Apa sekedar pengen cari-cari perkara supaya dapat "ubo rampe" maupun amplop dari para korkot ??”
Silahkan bila saudara mempunyai bukti-bukti yang cukup menunjukkan hal tersebut, bisa disampaikan ke KMW, agar bisa kami tindak lanjuti, dan kami mengundang saudara untuk berdiskusi dengan KMW terkait masalah ini.
Tanggapan 4
 
Re: TA Monev Jateng KURANGKRJAAN
Gugun Gunarsa, 25 April 2012, jam 17:07:53
Heheheh ngaku pejuang warmis pantura, pejuang yg mana?
Pejuang asal ngomong yo embuh.

Kalo gak paham gak usah ngomonglah di forum yg baik ini, jadi ketahuan begonya.
Mana ada korkot ngasih ubo rampe? ga jamannya coy, jauh jauh jauh dari hal begitu.
Ngaku pejuang tapi hatinya kotor. Jangan memanipulasi pejuang dan orang miskin, kewalat lho
Istighfarlah coy.... itu juga kalo ente beragama
Tanggapan 5
 
Re: TA Monev Jateng KURANGKRJAAN
pak suryanto, 26 April 2012, jam 17:57:34
sepertinya saya juga mau ngasih komentar biar tidak ada fitnah....

saya kira, kalau mau menyampaikan statement itu harus punya data dan bukti2 nya....
tidak hanya asal menyampaikan pernyataan tanpa dasar....
saya kira TA monev memang mempunyai Tupoksi untuk mengendalikan pelaksanaan pendampingan bisa berjalan secara optimal baik secara substansi maupun tehnis...
wajar kalau TA monev selalu memberikan masukan dan arahan supaya pendampingan bisa lebih baik...
justru bagaimana masukan dan arahan itu bisa jadi dasar untuk perbaikan pendampingan ke depan...
apalagi pernytaan "sekedar pengen cari-cari perkara supaya dapat "ubo rampe" maupun amplop dari para korkot" itu jelas salah besar....
selama ini TA MONEV juga gak pernah melakukan seperti....

demikian komentar saya...

terima kasih..
Tanggapan 6
 
Re: TA Monev Jateng KURANGKRJAAN
SLAMET NURHIDAYAT, 28 April 2012, jam 22:15:36
Salam
Membaca tulisan "pejuang warmis pantura" saya kok jadi ngga habis pikir ya dan timbul beribu pertanyaan.
Darimana dia punya pikiran sebegitu "minor". Kasihan betul saya pada kawan kita ini.

Saya jadi korkot/kab sejak april 2007, sudah berpindah lokasi 4 kali, dan TA Monevnya juga ganti-ganti orang. Belum pernah sekalipun tersirat, terpikir, apalagi berencana atau memberi ubo rampe atau apapun namanya terhadap TA monev atau TA Apapun yang melakukan uji petik ataupun monev (Karena tim uji petik tidak selalu TA Monev).

Berpikirlah yg jernih kawan, karena pikiran yang positif insya Allah akan membuat anda sehat jasmani dan rohani. Berprasangka buruk dan emosional sama sekali tidak akan menolong siapapun, termasuk anda sendiri.

Sebagai pejuang, yang harus anda lawan pertama kali adalah hawa nafsu anda sendiri (Nafsu amarah dan Prasangka buruk). Semoga Allah Ta'ala selalu membimbing kita ke jalan yang benar, amin
senangnya...
Tanggapan 7
 
Re: TA Monev Jateng KURANGKRJAAN
SURYA W SIAGIAN, 28 April 2012, jam 23:50:17
Pertama-tama ingin saya sampaikan bahwa saya tidak ingin menanggapi persoalan “TA Monev Jateng kurang kerjaan”, karena hal tersebut sudah ditanggapi, dan kalau saya menanggapi lagi berarti saya yang kurang kerjaan. Tapi masalahnya saya ingin sekali memberi tanggapan. Biar tidak dituduh kurang kerjaan, maka saya ingin menanggapi persoalan TA secara umum saja, Insya Allah malah akan memberi tambahan pekerjaan.

Saya berangkat dari tanggapan dari Sdr. Ardinsyah Alam yang memberikan gambaran tentang tugas TA yang intinya mendekatkan jarak antara laporan yg diterima KMW dg realitas di lapang atau crosschek kesuaian data/dokumen dengan realita lapangan. Bilamana ada ketidak sesuaian data/dokumen dengan realitas dilapang, sudah seharusnya memberikan masukan/teguran untuk segera dibenahi, bukan untuk mencari-cari kesalahan.

Tanggapan dari Sdr. Ardinsyah Alam tesebut, sangat mengganggu pikiran saya dalam beberapa hari ini. Bagi saya entah apa yang janggal atau aneh dari tanggapan tersebut? Mohon maaf sebelumnya, kalau tugas TA (apapun itu) hanya membandingkan dokumen/laporan /data dengan realitas lapangan, maka menurut saya sangatlah minimalis. Tidak cukupkah itu kalau dilakukan oleh Senior Faskel saja? Kenapa harus TA? Apalagi oleh TA level Provinsi. Kesan kedua saya adalah pelabelan “TA” seperti orang jawa bilang “kabotan jeneng” (nama terlalu besar tapi tugasnya minimazlis).

Sebenarnya kalau kita dapat melihat perjalanan program pemberdayaan ini sejak tahun 2000 sampai dengan sekarang maka akan dapat diidentifikasikan permasalahan yang muncul di tingkat lapang. Apakah itu persoalan mikro finance dengan kredit macet, keterbatasan modal, tingkat bunga dll. Begitu juga dalam kegiatan fisik lingkungan, maupun bidang sosial dan masalah dalam pemberdayaan itu sendiri. Kalau ngomong kasus (masalah), maka saya yakin sudah banyak kasus yang telah diidentifikasi dan diinventaris bahkan sampai modus operandinya. Nah, kalau TA hanya membandingkan data dengan lapangan, maka saya yakin akan banyak persamaan yang didapat dengan temuan temuan yang sudah sudah. Kembali lagi kesan ketiga saya, TA hanya mengulang dan menambah koleksi temuan saja.

Saya ingin kembali mengajukan pertanyaan yang pernah saya lontarkan: Seberapa besar keyakinan kita BKM akan tetap berjalan ketika BLM berhenti? Berapa waktu yang diperlukan untuk mewujudkan BKM yang Mandiri? Apakah pola kegiatan TA yang lakukan dapat menjamin keberlangsungan BKM tanpa BLM dan menjamin terwudnya BKM Mandiri?

Atau pertanyaan sederhana yang selalu menjadi kontroversi, bagaimanakah caranya agar supaya Pimpinan Kolektif (PK) BKM mendapat insentif yang memadai? Kepada TA yang mana pertanyaan ini diajukan? Saya sudah pesimis kalau jawaban TA mengacu sama dokumen/pedoman.

Kalau TA hanya sibuk membandingkan atau crosschek kesuaian data/dokumen dengan realita lapangan, maka sebenarnya ia telah melupakan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat maupun PK BKM, bahkan tujuan akhir dari program ini, sehingga tidak aneh kalau ada statement “TA kurang kerjaan”.

Intinya, harapan saya atas keberadaan TA dapat memberikan jawaban mendasar terhadap keberadaan BKM agar tetap eksis walau tanpa BLM, memberikan value added terhadap proses pemberdayaan dan mempercepat terwujudnya BKM Mandiri. Untuk itu, seorang TA harus berani keluar dari zona kenyamanan untuk dapat berinovasi melahirkan ide ide kreatif, bahkan ide gila sekalipun. Seorang TA harus mampu memberikan berbagai alternatif pilihan bagi pengambil kebijakan dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan.

Atau ekspetasi saya terhadap TA yang terlalu tinggi?


Kembali ke atas | Kirim tanggapan | Kirim pesan baru
Jl. Penjernihan I No 19 F1 Lantai II,
Pejompongan Jakarta Pusat
Total pengunjung hari ini: 12603, akses halaman: 13243,
pengunjung online: 18651, waktu akses: 0,031 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank