Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Forum
,
Selamat datang di website KOTAKU.
Dana mengendap 
Ahmad Firdaus, 18 September 2014, jam 16:21:27
Salah satu persoalan menahun terkait kegiatan pinjaman dana bergulir (PDB/RLF) di PNPM Perkotaan adalah dana mengendap (idle money).

Disatu sisi kita sibuk fasilitasi LKM/ UPK bahkan KSM agar mampu menjalin “Kemitraan” dengan berbagai pihak (khususnya akses dana/ permodalan) sesuai “Transformasi Sosial” namun disisi lain dana mengendap di UPK sangat besar dan belum ada solusi konkrit. Hal ini memang sering kita diskusikan dan share diberbagai kegiatan, seperti; Rakor PD dan TL, KBIK KMP, OSP/ OC/ KMW, Tim Korkot, Pemda dsb.

Kali ini kami lagi mendesain POB terkait hal tersebut dengan batas waktu akhir Sept 2014 harus selesai. Adapun salah satu desain konsep yang akan dikembangkan adalah pelayanan PDB menuju ke arah Sustainable Livelihood Approach (SLA) meskipun belum menyeluruh, Smoga solusi ke depan dapat membawa masyarakat untuk meningkatkan akses pelayanan PDB demi kesejahteraan masyarakat miskin dan konsep tersebut dapat diterima oleh para pemangku kepentingan.

Silahkan teman2 jika mau beri masukan kami tunggu ya .... bisa via email USK MK dan KM KMP 1 dan 2

[Kirim tanggapan | Kirim pesan baru]



Tanggapan 1
 
Re: Dana mengendap
Agus Biyant, 19 September 2014, jam 9:28:20
Tidak hanya d UPK saja yg mengalami idle money, kalau dikatakan menahun sebenarnya sama halnya di industri keuangan baik bank maupun non perbankan. tetapi perlu diingat bahwa segmen UPK terbatas pada PS2 dan Skim pinjaman modal kerja serta adanya batasan pinjaman dan berapa kali meminjam.

Sedangkan di industri keuangan, tidak terbatas pada warga miskin saja segmen pasar mereka, mereka punya kegiatan yang fokusnya untuk masyarakat miskin maupun UMKM, misalnya melalui CSR mereka. Dari sisi Skim kredit, juga variatif yg ada di industri keuangan (perumahan, otomotif, pendidikan, haji, dll). Berapa kali pinjam juga tidak dibatasi, selagi angsurannya lancar dan tidak termasuk dalam debitur nakal (versi SID/Sistem Informasi debitur atau BI Checking). Jumlah pinjaman juga menyesuaikan kebutuhan dan agunan.

Semoga POB yang akan lahir mengakomodir hal-hal yg hampir sama dengan industri keuangan ??? (Sisi sosial (CSR) dan bisnis (bank konvensional).
Tanggapan 2
 
Re: Dana mengendap
Agus Biyant, 19 September 2014, jam 12:49:04
Satu lagi, mungkin tingkat kesejahteraan UPK perlu di perhatikan.
Selama ini hanya target-target yang harus mereka kejar (LAR, PAR, CCr, ROI, dll), ketika terjadi kesalahan mereka dapat teguran/disalahkan tetapi ketika mereka bisa berhasil dalam perguliran dgn tingkat kemacetan relatif rendah, mereka tidak dapat "Reward". Dari hal terbut membuat mereka kurang termotivasi untuk bekerja lebih baik lagi.
Tanggapan 3
 
Re: Dana mengendap
Buddy Prayitno, 21 September 2014, jam 9:48:50
1. Mungkin perlu tinjauan kecenderungan sosial di masyarakat yang rekomendasinya mengarah kepada kesiapan masyarakat baik terkait motivasi melakukan usaha produktif maupun pembayaran kembali
2. Perlu juga tinjauan organisasi / kelembagaan BKM beserta UPKnya terkait kesiapan orgasisasi yang sehat dan kondusif sehingga mampu melayani PDB dimasyarakat
3. Perlu dikaji juga kajian mata pencaharian, pola pendapatan dan besaran tingkat bunga setempat serta persepsi religius masyarakar setempat tentang dana bergulir dan bunga sehingga menghasilkan rekomendasi mengenai kemungkinan deversifikasi produk perguliran

dan banyak hal lagi yang harus dikaji untuk itu, yang penting jangan sampai batasan2 menjadikan masyarakat kurang leluasa berkreasi sehingga malah mandul pergulirannya.

Maaf dan terimakasih

Budi Prayitno


Tanggapan 4
 
Re: Dana mengendap
Danli Timisela, 22 September 2014, jam 11:36:36
Iya pak Fir... senangnya...

Kita mulai dari DATA saja dulu pak.

1. PENGELOLA (UPK) ==> Mengelola Pengelola.
Pertanyaan awalnya: kita ingin seperti Perbankan, atau model yang bagaimana?
Kalau Ya, berapa UPK yang sudah mendekati perbankan.
Syarat:
a) Punya Kantor
b) Punya "jam kantor". Bank Sabtu libur. UPK?
c) Ada loket. Di bank ada yang namanya Kasir-1, Kasir-2, Kasir-3, dst..
d) Ada Kartu/Buku Peminjam yang layak. Kalau kita simpan uang di bank kita diberi Buku Tabungan, bukan "fotocopy kertas tabungan".
e) Gaji. Teler sudah diatas UMR.
f) Advise ke Klien. Advise (pake S) adalah tindakan (Verb), bukan sekedar Advice (Noun).
g) Legalitas. Bank sudah jelas.
h) ...dst...

UPK kita bagaimana, berapa yg sudah. Mestinya kita punya datanya, barulah di-treatment.
Dalam kedokteran, pasiennya di-diagnosa dulu. Dokter cari info bertanya ke pasien, mengamati gejala di tubuh pasien, membaca rekam-medis (kalau ada). Diagnosa tingkat lanjut disebut uji-lab (tes darah, dll). Barulah diberi Tindakan Medis.
Diagnosa kita mau sampai tingkat mana, perlukah sampai Tingkat Lanjut (cek darah)..?
Jangan sampai kita salah diagnosa.

2. SEGMEN PASAR ==> KLIEN
Pasar kita sudah jelas : PS-2.

Kategori PS-2:

1) Sangat Miskin (SM). Sumber pendapatan tidak ada atau sangat kecil :

a) SM #1: usia non-produktif, tidak punya usaha, tidak punya modal. (Saran saya: Dinsos saja)
b) SM #2: usia produktif, tidak punya usaha, tidak punya modal (Mereka mau "berusaha" saja sudah syukur kita).
c) SM #3: usia produktif, punya usaha sangat kecil yaitu pedagang sayur: beli di pasar, jual depan rumah.


2) Miskin (M). Sumber pendapatan ada:

a) M #1: usia produktif, punya usaha yaitu : membuat kerupuk singkong. Pasar hanya di kios pribadi.
b) M #2: usia produktif, punya usaha yaitu : membuat kerupuk singkong. Pasar hanya di beberapa kios pribadi.

3) Hampir Miskin (HM). Sumber pendapatan ada:

a) HM #1: usia produktif, punya usaha yaitu : membuat kerupuk singkong, punya pasar di beberapa mini-market.

Terkait dgn Data, pertanyaannya adalah ada berapa KK dari setiap kategori..?

Profil PENGELOLA.
Profil KLIEN.
Profil POTENSI KLIEN (berbasis SDM dan Wilayah/Kawasan) ==> barulah diarahkan ke SLA.

Point saya, Datanya dulu pak. Profil. Barulah kita petakan masalah dan solusinya. Biar POB-nya "mantap" gitu lho.. Tapi kalau dikejar target, ya seadanya dulu kalau gitu. Mana sempat punya profil ha..ha..ha... ha..ha..ha... ha..ha..ha...

Sementara itu dulu pak Fir..

Bravo PNPM senangnya...
Tanggapan 5
 
Re: Dana mengendap
bebek penyet, 24 September 2014, jam 8:07:19
mungkin kita harus memungkinkan menerima sistem baru dalam pengelolaan dana bergulir yang aplikasinya lebih bisa menghindari kemacetan dengan membuat variasi product pinjaman baru berbasis segmen miskin yang dilayani, dengan sistem pinjaman Arisan Natura produktif, sewa beli , bagi hasil, Pinjaman berasuransi, pinjaman pembiayaan tenaga kerja dsb.

Sebuah POB yang membuka peluang kreatif dalam pengelolaan keuangan bergulir yang tetap berorientasi sasaran miskin namun dapat dipastikan produktif,sustainable dengan nilai variatif sesuai kebutuhan penerima dan sangat mempertimbangkan prinsip payment ( kemampuan membayar angsuran )

Namun tak kalah penting kita harus menemukan orang baik dari pihak masyarakat maupun konsultan yang memiliki dedikasi dan komitmen dalam penerapan aplikasi masing2 produk dengan orientasi jangka panjang kemandirian masyarakat, bukan sekedar untuk memenuhi penilaian kinerja pribadi yang bersifat temporer dan parsial namun mempertimbangkan aspek tinjauan komprehensif dan tindakan integratif yang memerlukan partisipasi berbagai pihak-pihak dalam kompetensinya masing-masing

Mari kita bicarakan mekanisme aplikasinya secara merdeka tanpa takut mendapat penilaian karena berbeda konsep dsb, karena sebuah konsep kebenarannya selalu relatif karena akan ditentukan seberapa efektif dan efisien bangunan sistem bagi masyarakat. Kita tak bisa main pencitraan mulu krn kelamaan akan aus dan ditinggalkan


Kembali ke atas | Kirim tanggapan | Kirim pesan baru
Jl. Penjernihan I No 19 F1 Lantai II,
Pejompongan Jakarta Pusat
Total pengunjung hari ini: 10668, akses halaman: 12028,
pengunjung online: 10047, waktu akses: 0,031 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank