Nganjuk, 8 Februari 2012 Menjadi Pemimpin Berarti Menjalankan Amanah
 |
Oleh: Rohmat Bahtiar, SE Senior Fasilitator Kab. Nganjuk OC 6 Jawa Timur PNPM Mandiri Perkotaan . |
Manusia adalah pemimpin bagi bawahannya, bagi diri sendiri, istrinya, anaknya, suaminya, dan keluarganya. Dan semuanya akan dimintai pertanggungjawaban kelak.
Dalam sebuah hadist dinyatakan bahwa:
عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما: أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: ألا كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته فالإمام الاعظم الذي على الناس راع وهو مسؤول عن رعيته والرجل راع على أهل بيته وهو مسؤول عن رعيته والمرأة راعية على أهل بيت زوجها وولده وهي مسؤولة عنهم وعبد الرجل راع على مال سيده وهو مسؤول عنه ألا فكلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته
(Klik hadist di atas guna memperbesar imaji)
Yang artinya:
Abdullah bin Umar r.a. berkata bahwa Rasulullah, SAW telah bersabda, “Ketahuilah: kalian semua adalah pemimpin (pemelihara) dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya tentang rakyat yang dipimmpinnya. Suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawabannya tentang keluarga yang dipimpinnya. Isteri adalah pemelihara rumah suami dan anak-anaknya. Budak adalah pemelihara harta tuannya dan ia bertanggung jawab mengenai hal itu. Maka camkanlah bahwa kalian semua adalah pemimpin dan akan dituntut (diminta pertanggungjawaban) tentang hal yang dipimpinnya.”
Amanah artinya adalah sebuah kepercayaan, dan pemimpin mengemban kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya. Ini merupakan tanggung jawab dan amanah besar yang ia pegang. Betapa tidak, karena upaya mewujudkan cita-cita menuju kesejahteraan dan keadilan itu ada pada kebijakannya. Nasib bawahan terletak pada kebijaksanaan dan kearifan seorang pemimpin.
Ada kisah tentang Rasulullah, SAW, pada suatu ketika menjadi imam shalat. Para sahabat menyaksikan, pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain terlihat sukar sekali. Dan, mereka mendengar bunyi menggerutuk, seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain.
Sayiddina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya seusai mereka shalat: "Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah Tuan menanggung penderitaan yang amat berat. Tuan, sakitkah, ya Rasulullah?"
"Tidak, ya, Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar," sabda beliau.
"Ya, Rasulullah, mengapa setiap kali Tuan menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh Tuan? Kami yakin engkau sedang sakit," desak Umar penuh kecemasan.
Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut baginda kempis, dan terlihat dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil. Rupanya untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.
"Ya Rasulullah! Adakah bila Tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat Tuan?"
Lalu baginda menjawab dengan lembut, ”Tidak, para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan Allah nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban bagi umatnya? Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini. Terlebih lagi, tiada yang kelaparan di akhirat kelak."
Alangkah bahagianya apabila kita mendapatkan pemimpin yang bersikap seperti Rasulullah. Yah, minimal seperempatnya sajalah, tidak apa-apa. Dan bila “mimpi” itu bisa terwujud, maka tidak mungkin ada yang namanya gaji telat, dan tidak mungkin ada yang namanya mulur biaya operasional!
Semoga sedikit kisah dan keluh-kesah ini mampu membuka hati nurani. Amin!
Saya teringat sesuatu yang diampaikan di dalam pelatihan dasar (pra tugas) oleh pemandu, dan akhirnya kita sampaikan pula kepada masyarakat bahwa lunturnya nilai-nilai luhur kemanusiaan, lunturnya hati nurani manusia, adalah akar dari kemiskinan. (OC 6 Jatim)
Editor: Nina K. Wijaya
(dibaca 595)
|