Malang, 14 Mei 2012 Pertajam Insting Pemetaan & Kemitraan, PNPM MP Kota Malang Gelar KBiK
 |
Oleh: Tutik Sekretaris Kota Malang KMW 6 Jawa Timur PNPM Mandiri Perkotaan
|
Sebagaimana telah direncanakan setiap enam bulan sekali, Tim PNPM kota Malang kembali melakukan agenda KBiK yang dipadukan dengan kegiatan outbond dan On The Job Training (OJT). Beberapa hari sebelum kegiatan KBiK dilaksanakan terlebih dahulu dilakukan need assesment kepada seluruh tim faskel. Hasilnya, dirasakan perlu melakukan penguatan pemahaman dan teknis Pemetaan Swadaya dan Pemasaran Sosial guna lebih mengoptimalkan kualitas pendampingan khususnya kepada BKM, relawan dan KSM.
Kegiatan KBiK yang dilaksanakan pada tanggal 13-14 Maret 2011 ini berlokasi di Pusat Rehabilitasi Hewan P-WEC (Petungsewu Wildlife Education Centre) Kabupaten Malang. Sedangkan lokasi OJT atau praktek pemetaan dilaksanakan di Dusun Sumberbendo, yang berdekatan dengan lokasi KBiK. Tema yang diangkat adalah “air mata mereka mata air kita, dengan hati kita bicara”.
Tema ini sempat menjadi perbincangan menarik di internal Tim Faskel Kota Malang, karena ada yang takut jika makna mata air disalahartikan menjadi sumber mata pencaharian bagi pendamping dengan menjadikan warga miskin sebagai objek. Padahal maksudnya kondisi tersebut justru sebagai lecutan semangat bagi BKM, relawan dan Tim Faskel untuk semakin berkreasi guna memberikan yang terbaik bagi warga miskin.
Lokasi P-WEC yang dikelola oleh LSM Pro Fauna ini dipilih karena selain suasana pegunungan yang masih asri dan alami. Jarak tempuhnya dari Kota Malang juga relatif singkat, atau hanya sekitar 30 menit—kalau tidak macet. Yang terpenting adalah biaya penginapan dan akomodasinya juga bisa disesuaikan dengan budget panitia. Maklum kegiatan ini murni berasal dari kas KBiK kota Malang yang bersumber swadaya semua personel, dan hingga saat ini kegiatan KBiK belum dirasa perlu untuk dipasarkan pada pihak lain (pemda/swasta).
![Dusun Sumberbendo, lokasi pemetaan KBiK Kota Malang [Dok. Tutik & Farid S. Zuhri, PNPM Mandiri Perkotaan]](warta/files/jatim-outbond-ojt12.jpg) Dusun Sumberbendo, lokasi pemetaan KBiK Kota Malang |
![Salah seorang dari Tim Faskel tampak melakukan praktek WST [Dok. Tutik, PNPM Mandiri Perkotaan]](warta/files/jatim-outbond-ojt5.jpg) Tim Faskel tampak melakukan praktek WST |
Sementara sebagai pemandu dalam KBiK ini, selain dipandu oleh Tim Korkot Kota Malang, juga melibatkan TA Pelatihan dan TA Urban Planner dari KMW 6 Jatim. Acara mengupas kembali Pemetaan Swadaya dilakukan pada hari pertama. Penguatan pemetaan swadaya lebih ditekankan pada pemetaan yang berbasis kawasan yang mengacu pada peta tematik sebaran kemiskinan, sembari mengelaborasi pemetaan swadaya ala PLPBK. Meskipun hingga saat ini belum satupun kelurahan di kota Malang menjadi lokasi PLPBK, pemetaan dan perencanaan berbasis kawasan terpilih ini dirasa penting untuk dilakukan, terlebih di kelurahan yang tahun ini memasuki siklus tahun ke-4, atau sudah saatnya untuk melakukan reorientasi PS dan memperbaharui PJM Pronangkisnya.
Sebagaimana hasil evaluasi yang dilakukan Tim Korkot Kota Malang, mayoritas PJM yang telah disusun masih merupakan kumpulan shopping list yang bertumpu pada usulan program/kegiatan masing-masing RW. Belum fokus pada satu kawasan prioritas pusat sebaran KK Miskin. Apalagi Malang adalah lokasi dampingan P2KP 1-1 dan 1-2 yang seharusnya, jika ditilik dari usia, sudah saatnya naik kelas, baik tahapan pembelajaran maupun sisi keberdayaannya. Kalau program PLPBK belum bisa diraih, minimal ilmunya bisa diadopsi, begitu harapannya.
![Suasana KBiK bersama Tim KMW 6 Jawa Timur [Dok. Tutik & Farid S. Zuhri, PNPM Mandiri Perkotaan]](warta/files/jatim-outbond-ojt6.jpg) Suasana KBiK bersama Tim KMW 6 Jawa Timur |
![Korkot Malang sedang memandu acara [Dok. Tutik, PNPM Mandiri Perkotaan]](warta/files/jatim-outbond-ojt10.jpg) Korkot Malang sedang memandu acara |
Pada malam harinya, meski sempat tersasar dan bingung mencari jalan menuju lokasi KBiK, akhirnya Tim KMW yang terdiri dari Pak Markus (TA Pelatihan) dan Pak Edi (TA UP) serta Pak Ja’far (Legal HCU) dari KMW 6 Jatim tiba juga di lokasi dan memandu materi kemitraan. Maklum, di malam hari, jalan menuju lokasi yang tidak beraspal ini memang cukup gelap. Dan di tengah cuaca pegunungan yang dingin membuat sebagian peserta menjadi mengantuk. Sambil menikmati kue sawut—jajanan khas Jawa Timur yang terbuat dari parutan singkong dan gula merah—pemandu mampu membuat peserta tergugah untuk mendobrak kejumudan proses pemasaran sosial melalui channeling atau kemitraan. Sesi ini diakhiri pukul 24.00 WIB, dan peserta langsung merangsek ke tempat tidur di asrama yang struktur atau bentuknya cukup unik, berbahan kayu.
Outbond dan OJT, Mengasah Hati dan Intuisi
| Rupa-rupa gaya senam peserta, unik dan lucu |
Pagi harinya, sesuai jadwal yang telah disepakati bersama, tepat pukul 05.00 WIB semua peserta—meski sebagian perlu dibangunkan paksa—telah bersiap mengikuti outbond dan OJT Pemetaan. Tepat pukul 06.00 WIB semua peserta telah berkumpul di lokasi outbond dan mengikuti senam pagi. Instruktur senamnya berasal dari peserta yang bergantian memandu senam sesuai gaya dan bakatnya masing-masing, unik dan lucu.
Selepas mengikuti senam, Korkot Kota Malang Farid S. Zuhri memandu peserta yang sebelumnya telah dibagi menjadi 4 kelompok untuk melakukan outbond pikiran dan hati. Beberapa permainan dipraktekkan guna memperkuat motivasi dan kekompakan tim, dimana disadari bahwa kesatuan gerak hanya bisa diciptakan melalui kesatuan hati dan konsentrasi. Tepat pukul 08.00 WIB, gong dari ruang makan dibunyikan. Tanpa dikomando, semua peserta langsung menuju ruang makan guna menikmati sarapan pagi nasi pecel dan urap-urap ala P-WEC.
Setelah mandi dan berbenah, menjelang pukul 10.00 WIB, seluruh tim bersiap menuju lokasi OJT Pemetaan di Dusun Sumberbendo, Desa Kucur, Kecamatan Dau, yang berjarak sekitar 300 meter dari lokasi P-WEC. Setelah berkumpul di rumah Kasun (Kepala Dusun) Bapak Imam Syafi’i, semua kelompok langsung berpencar sesuai dengan pembagian lokasi pemetaan yang telah dibagi sebelumnya oleh panitia. Yang menarik, istri Pak Kasun ini berjualan rujak yang harganya hanya Rp3000 per porsi. Menurut Bu Syafi’i, semua sayuran yang digunakan adalah hasil dari memetik sendiri di kebun, karena itu harganya murah meriah.
![Warung Rujak Bu Kasun [Dok. Tutik, PNPM Mandiri Perkotaan]](warta/files/jatim-outbond-ojt4.jpg) Warung Rujak Bu Kasun |
![Sambil OJT, peserta memborong cabai [Dok. Tutik PNPM Mandiri Perkotaan]](warta/files/jatim-outbond-ojt7.jpg) Sambil OJT, peserta memborong cabai |
![Menikmati "Kopasus" dan Savana Ginger di P-WEC Cafe [Dok. Tutik & Farid S. Zuhri, PNPM Mandiri Perkotaan]](warta/files/jatim-outbond-ojt8.jpg) Menikmati "Kopasus" dan Savana Ginger di P-WEC Cafe |
![Salah satu lokasi praktek Mapping KBiK Kota Malang [Dok. Farid S. Zuhri, PNPM Mandiri Perkotaan]](warta/files/jatim-outbond-ojt11.jpg) Salah satu lokasi praktek Mapping KBiK Kota Malang |
Mengingat waktu praktek pemetaan yang cukup singkat, yakni hanya sekitar 3 jam, maka kegiatan pemetaan tidak menggunakan teknik partisipatoris atau PRA, melainkan memakai metode RRA. Namun intinya adalah bagaimana peserta mampu menangkap isu-isu strategis menyangkut potensi dan masalah di masing-masing kawasan untuk kemudian mencoba memvisualisasikannya, sehingga bisa dijadikan bahan kajian dan masukan bagi warga setempat. Setelah hampir pukul 14.00 WIB, gerimis mulai membasahi Kampung Sumberbendo. Beruntung semua kelompok sudah merampungkan kegiatan pemetaan, transek dan WST.
Setelah menikmati makan siang dengan lahapnya, masing-masing tim mencoba mendiskusikan hasil orientasi lapang mereka. Usai dilakukan kompilasi dan pembahasan isu-isu strategis, menjelang pukul 17.00 WIB dilakukan acara penutupan yang sederhana tapi cukup hikmat. Hasil pemetaan dan kajian secara simbolik diserahkan oleh Korkot Kota Malang, sekaligus menyerahkan kenang-kenangan kepada Pak Kasun. Dan ditengah rintik hujan yang mereda, semua peserta kembali ke Kota Malang dengan membawa misi menularkan praktek dan penguatan pemetaan swadaya ini kepada para relawan di semua kelurahan dampingan. (Jatim)
Editor: Nina K. Wijaya
(dibaca 528)
|