Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Warta
,
Selamat datang di website KOTAKU.
Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web KOTAKU. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web KOTAKU.
Tegal, 12 Januari 2017
Pit Stop

Oleh:
Hendro Priyo Susanto, SP
Askot Mandiri Kota Tegal
OSP 5 Provinsi Jawa Tengah
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Semangat Pagi.

Menjelang akhir tahun 2016, nyaris setiap hari feedback progres yang merupakan “alarm kontrol” dari OSP terus menyala, entah call langsung HP, email atau via WA grup. Lumrah, upaya memaksimalkan capaian terus dilakukan di saat-saat injury time. Baik tim fasilitator kelurahan maupun tim korkab sampai KMW berupaya sebaik mungkin menunjukan kinerja agar sesuai dengan target yang telah ditentukan.

Perjalanan selama tahun 2016 seakan tergambarkan di akhir tahun ini. Ada kabupaten/kota yang luar biasa pencapaian targetnya karena sudah 100% selesai. Tentunya kita sangat bersyukur, antusiasme Pemerintah Kabupaten/Kota yang telah menggunakan perannya sebagai “Nakhoda” dalam penanganan kumuh dapat langsung bergerak cepat mengemudikan bahtera sesuai dengan speed yang dibutuhkan dan arah yang dituju. Mata angin, kondisi cuaca, ombak/gelombang, dan faktor lainnya telah dikuasai betul oleh Sang Nakhoda untuk mencapai pelabuhan 0% luasan kumuh yang telah ditentukan.

Namun demikian, dalam feedback yang tergambar dalam grafik masih ada yang berwarna merah, yang menunjukan bahwa belum semua Pemerintah Daerah dapat memerankan perannya sebagai Nakhoda yang baik dalam penanganan kumuh melalui Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU). Faktor penyebabnya sangat kompleks, dari urusan yang berbau politik, clique dalam internal pemerintah daerah sampai mungkin pendampingan yang masih kurang greget, minim energi inisiatif dan kreativitas.

Harapan membumbung tinggi bahkan sangat tinggi di awal Program KOTAKU diluncurkan. Berbagai even baik lokakarya, workshop, pelatihan-pelatihan dan lainnya silih berganti dilakukan dari level pusat, provinsi sampai kabupaten/kota. Namun kondisinya masih timpang. Ada provinsi dan pemerintah kabupaten/kota yang antusias, ada pula yang masih apa adanya. Persoalan klasik masih menjadi penyebabnya. Timing yang tidak tepat menjadi salah satu penyebabnya.

“Bendera” KOTAKU yang berkibar tahun 2016 sangat tidak mengkin dibiayai dari anggaran tahun 2016 untuk kabupaten/kota yang tidak mempersiapkannya dari awal. Regulasi kepastian adanya program KOTAKU masih terdengar sangat sepi di tahun 2015. Kehati-hatian pemerintah kabupaten/kota dalam pembiayaan kegiatan/program harus juga diperhatikan. Penganggaran suatu kegiatan/program harus memiliki dasar hukum yang kuat. Inilah yang masih menjadi kendala utama. Komunikasi Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah pun untuk urusan surat menyurat tidak cepat, bahkan harus mengandalkan jalur konsultan sampai saat ini. Banyak kabupaten/kota yang terpaksa harus berjalan lamban dalam proses kegiatan KOTAKU karena baru bisa berjalan dengan menggunakan pembiayaan dari anggaran perubahan yang baru dapat digunakan menjelang akhir tahun 2016.

Dampaknya sangat terlihat, baik kegiatan di tingkat kabupaten/kota maupun kegiatan di tingkat kelurahan/desa. Belum lagi tidak adanya biaya operasional BKM/LKM dalam tahun 2016 menambah panjang daftar penyebab terhambatnya proses di tingkat masyarakat. Pepatah “Samudra yang Tenang Tidak Melahirkan Pelaut yang Ulung” terwujud di sini. Bagaimana Tim Korkab dan Tim Faskel menyusun strategi sedemikian rupa untuk bisa proses siklus Kota dan Masyarakat bisa berjalan.

Bagi kabupaten/kota yang telah memiliki Pokja PKP bisa jadi tidak ada kendala, tetapi bagi yang belum memiliki Pokja PKP menjadi permasalahan sendiri yang cukup memusingkan kepala. Strategi gerilya dan menghimpun personil militan di tingkat kabupaten/kota menjadi salah satu cara yang dilakukan supaya proses pendampingan program KOTAKU di tingkat kabupaten/kota bisa berjalan. Bahkan, Lokakarya Sosialisasi KOTAKU pun baru bisa diselenggarakan pada bulan Desember 2016. Di tingkat masyarakat, memanfaatkan kegiatan di tingkat basis dan kelurahan/desa serta memanfaatkan kegiatan Pengembangan Kapasitas Masyarakat (PKM) untuk mendukung siklus agar berjalan menjadi strategi yang lumrah dan umum untuk diterapkan.

Semua energi tercurahkan sampai pertengahan bulan Desember 2016. Sehari menjelang Natal baru ada informasi cuti bersama tanggal 26 desember 2016. Sontak terlihat perubahan wajah dari kondisi stres ke ceria. Bagi yang merayakan Natal maupun tidak, ada momen kebahagiaan bersama keluarga.

Anggaplah apa yang kita lakukan adalah perlombaan F1, saatnya kita semua masuk ke Pit-Stop. Sejenak berhenti untuk recharge, refresh, rechek dan rebuild. Pit-Stop di cuti bersama Natal dan Tahun Baru 2017 merupakan cara untuk menjaga keseimbangan antara Mind, Body & Soul. Bagi siapapun yang mengejar prestasi tanpa menjaga keseimbangan antara ketiganya berarti belum damai dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Semoga tahun baru 2017 semua dalam kondisi prima melanjutkan ke putaran 3 bulan berikutnya dalam “lomba” penanganan kumuh.

Tetap Semangat!!! [Jateng]

*Pustaka: Manusia Pembelajar adalah Manusia Sukses; Triswanto, ST

Editor: Nina Razad

(dibaca 303)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
Jl. Penjernihan I No 19 F1 Lantai II,
Pejompongan Jakarta Pusat
Total pengunjung hari ini: 10520, akses halaman: 11271,
pengunjung online: 4129, waktu akses: 0,031 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank